Kamis, 04 Februari 2010

Sebuah catatan cinta dari cowox romance

Segenap rasa terharu berbalut kemelut rindu kutujukan untuk seorang kekasih yang berdiri di dekat gerbang kesunyian. Menanti suatu kejujuran. Kejujuran dalam mengarungi kesunyian ingatan Tuhan, kejujuran dalam menempuh getirnya gelombang kehidupan. Suara kekasih belum terdengar merdu di telingaku ini. Yang kudengar sekarang nyanyian pilu di lembah kesunyiaan. Itupun hanya sesekali. Aku ingin mendengarnya lebih leluasa agar dapat kutangkap isi syair yang sebenarnya. Lewat lirikan nada indah aku bisa mengerti bahwa itulah nyanyian kekasih yang aku impikan. Lirik-lirik indah yang pernah kudengar kini kembali membuatku menanti. Lirik-lirik yang sekarang berubah menjadi nyanyian lembut membuka mata kesusahanku dan berusaha menemukan keindahan dan kebahagian yang hakiki lewat arti lirik-lirik nyanyian kekasih. Tapi, dimana suara itu? Apakah nyanyian itu benar datang dari kekasih? Sungguh, aku tidak membutuhkan syair indah yang aku butuh hanyalah makna dari syair itu. Siapa saja bisa merangkaikan syair indah, siapa saja bisa menciptakan lirik indah. Namun belum tentu bermakna.

Disini aku masih berdiri di dekat limbah kesunyiaan. Disini aku bisa melihat betapa getirnya suasana lembah itu. Kegetiran itu malah membuatku sangat merindukan nyanyian seorang kekasih yang lahir dari lembah kusam walau aku harus berdiri lebih lama lagi dan menikmati nyanyian dari seorang kekasih, aku rela. Aku tahu Tuhan sedang melempangkan jubahNya di dalam limbah itu. Dan aku juga menyadari jubah itu akan menutupi kesunyiaanku sambil berharap nyanyian dari seseorang kekasih itu tiba di pintu hatiku.

Aku masih disini meneguhkan semangatku yang hampir rubuh dan kupaksakan diri ini untuk menghindar dari nyanyian itu. Namun aku tidak sebegitu lemah menghadapinya. Keharusan ku untuk mendengarkan nyanyian itu terus menggejolak dalam nadi jiwaku memaksaku terus menerus untuk menemukan nyanyian yang bermakna.

Senja kembali menyapa limbah itu. Kegelapan ikut memburamkan wajahku sementara mata ku masih tertuju ke arah limbah sunyi itu dan masih menunggu nyanyian indah dari seseorang kekasih dari sana, meskipun cahaya gelap seolah mengusirku dari limbah itu. Aku tidak peduli, aku harus mengecohkan isyarat senja dan aku harus tetap berdiri demi menemukan satu kepastian dari extensi cinta abadi lewat nyanyian seseorang kekasih sehingga intensitas hati ini bisa termaktub dalam sejarah lirik-lirik senja. . Hingga sekarang aku masih menunggu nyanyian indah dari seorang kekasih seraya membiarkan waktu mendoakanku supaya nyanyian itu bisa hadir menghibur jiwaku dan bersama merajut syair indah yang penuh makna.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar